Education design with icons Free Vector

Mungkin bisa menjadi ranking satu di sekolah adalah impian semua siswa. Bisa lebih tenar di sekolah, apalagi ada dorongan dari orangtua sehingga kalau kita jadi ranking satu di sekolah, akan membuat bangga orangtua dan kita pun bangga karena bisa menyenangkan hati orang tua.

Namun menurut saya ada sebuah bahaya terselubung apabila kita sekolah hanya mengejar ranking satu saja. Kita bisa saja mengabaikan Tujuan utama dari sekolah yaitu BELAJAR.

Bagi saya , siswa yang bisa mendapatkan ranking satu, belum tentu dia belajar. Ya tentus aja materi sekolah masuk ke otaknya, sehingga ketika ada pertanyaan di kertas ujian, siswa mampu menjawab. Mungkin kalaupun belajar, maka proses belajar akan berhenti sampai disini saja.

Belajar dan Menghapal adalah dua proses yang berbeda. Tidak heran ada fenomena, murid ranking satu di SMA, suatu saat akan bekerja pada murid yang mungkin ranking satu dari belakang :D. Ya tidak se extrime itu juga sih, itu cuman metafora saja.

Maksud saya begini, apakah anda yakin, bahwa di sekolah anda benar – benar belajar sesuatu ? Atau sudah sudah – susah masuk sekolah  jam sehari, tapi cuman dapat bahan hapalan aja ?

Melerai teman yang berkelahi

kIta di sekolah belajar “Kalau ada teman berkelahi,. harusnya : DILERAI”. Begitu ada teman berkelahi, biasanya ngapain ?

  1. Dilerai sesuai yang sekolah ajarkan
  2. Disorakin
  3. taruhan siapa yang menang
  4. Cepat – cepat kabur sebelum ikut jadi persoalan

Terus terang sekolah ajarin saya buat meleraii teman yang sedang berkelagin, namun orang tua saya bilang “kalau ada yang berkelahi segera kabur” nah ini susah kan. Tentu saja lebih logis kabur. Karena insting manusia untuk bertahan hidup. Karena kalau melerai, tau – tau bisa ikut kena pukul.

Berarti benar kan, anda cuman menghapal jawaban , kalau ada pertanyaan teman berkelahi, jawabannya “dilerai”. Itu cuman sekedar hapalan.

 

 

Agar Bisa Jadi Ranking Satu

Agar bisa menjadi ranking satu, anda cukup setiap hari duduk, buka buku pelajaran baca berulang – ulang, saya yakin Anda bisa minimal masuk 5 besar hingga 10 besar  di kelas.

Namun kalau anda benar – benar belajar, MUNGKIN saja, anda tidak akan dapat ranking apa – apa. Sebagai contoh saya pribadi, waktu SD – SMP – SMA memang sering dapat ranking 5 besar, walaupun hampir ga pernah dapat ranking satu. Dan ranking saya fluktuatif, kadang bisa ranking 2, semester berikutnya ranking 12.

Saya ini orangnya tergolong “suka – suka saya”, Alias kalau misalnya ada 10 mata pelajaran atau mata kuliah, saya hanya suka 1 mata kuliah, maka saya hanya belajar yang satu mata kuliah tersebut,. Yang lainnya saya baca apa adanya saja. Dapat nilai C juga saya ga peduli.

Saya ingat waktu SMA, saya sangat suka matematika, sangking sukanya saya dengab matematika, tidak ada PR pun, saya pulang sekolah tetap belajar matematika. Nilai yang lain agak jelek , saya tidak peduli. Bahasa indonesia lulusnya mepet tidak apa – apa karena saya hanya belajar matematika.

Sewaktu kuliah, saya hanya suka pelajaran Algoritma dan Pemrograman (Sebutannya AP) Dan waktu Kuliah AP2, saya membuat suatu program game halma dalam bentuk 3 dimensi beserta dengan kecerdasan buatan. Padahal dari dosen, tidak harus 3 dimensi. Namun karena suka, maka siang malam saya hanya mengerjakan Game itu saja. Dan jadilah game halma 3 dimensi ,beserta dengabn Artificial intelligent. Alhasil Saya lulus kuliah AP2 dengan nilai A (sementara 25 dari 30 peserta kuliah tidak lulus).

Ironisnya adalah waktu saya lulus kuliah AP2, bersamaan dengan itu ada mata kuliah lain yang tidak lulus, dan banyak mata kuliah yang saya ikuti nilainya C.

Saat ini saya kerja banyak berhubungan dengan programming dan analisa data.  Yang benar- benar terpakai adalah kemampuan saya dalam matematika serta pelajaran AP 1,2 dan 3.

Dan apa gunanya bagi saya dulu kalau ranking satu, mendapatkan nilai yang tinggi untuk semua pelajaran PPKN, Sejarah, IPA, IPS tapi saat ini yang terpakai hanya matematika.

Apa gunanya dulu waktu kuliah mendapatkan nilai tinggi untuk Kalkulus, Cara merakit komputer, Nilai A untuk semua mata kuliah, kalau yang terpakai hanya Algoritma dan Pemrograman.

Belajar adalah Tanggung Jawab Pribadi

Disini saya tidakn menyalahkan sistem pendidikan. Karena sekolah dan kuliah , hanya bertugas untuk mengajarkan. Susah juga kalau sekolah atau kampus masing – masing menyesuaikan diri dengan satu mahasiswa, kan ga mungkin juga ya.

Untuk belajar adalah tanggung jawab pribadi. Anda harus menemukan suatu mata pelajaran yang menjadi passion anda, yang paling anda sukai, dan dalam itu terus.

Carilah suatu mata pelajaran  atau mata kuliah yang dengan senang hati akan anda kerjakan walaupun dosen tidak suruh. Yangh bikin anda penasaran.

Carilah suatu topik yang menjadi passion anda, sehingga ketika dosen meminta bikin makalah 10 halaman, anda kerjakan 30 halaman karena anda cinta mata kuliah tersebut.

BELAJAR.

Dengan belajar anda akan meng-explorasi jauh lebih banyak daripada yang dosen anda tau. Dengan belajar anda akan mengerti dan ilmu anda bisa menjadi berguna. Tanpa belajar, ilmu anda hanya berhenti sampai di kepala anda saja. Sekedar bisa menjawab pertanyaan di kertas ujian saja namun tidak memberikan manfaat bagi bangsa dan negara tercinta 😀

Melerai teman yang berkelahi

Kembali ke contoh melerai teman yang sedang berkelahi. Tanggung jawab sekolah hanya sampai kepada memberikan pengetahuan, “kalau ada teman yang berkelahi, ya dilerai”ini adalah pengetahuan. Sekedar tau, sekedar bisa jawab di lembar ujian.

Namun Kalau anda benar – benar tertarik dan ingin belajar tentang melerai teman yang sedang berkelahi, anda akan belajar mengenai

  1. Teknik psikologis persuasif
  2. Teknik bela diri agar jangan sampai kena pukul
  3. Teknik melihat keadaan sekitar, apakah ada yang bawa senjata tajam , senjata api, apakah ada provokator
  4. Bagaimana cara memanggil polisi / pihak yang berkepentingan dengan cepat
  5. Bagaimana agar perkelahian tidak berubah menjadi huru – hara
  6. Bagaimana agar pihak yang berkelahi ke depannya bisa akur kembali
  7. Menemukan pihak yang memulai masalah
  8. Teknik mengetahui kapan saat terbaik melerai
  9. dan lain – lain

 

Belajar itu, lebih sulit dari sekolah, namun jauh lebih menyenangkan dan tidak membosankan.

Mark Twain pernah berkata ” Jangan biarkan sekolah menghalnagi pendidikan anda”

 

 

Facebook Comments

News Reporter

Leave a Reply

%d bloggers like this: