Uang merupakan sesuatu yang sangat unik, dapatnya susah, habisin-nya gampang. Hasil kerja satu bulan bisa habis dalam wkatu satu minggu bahkan satu hari. Bahkan ada yang mengatakan bahwa masa muda mengorbankan kesehatan demi uang, nanti masa tua, korbankan uang untuk kesehatan.

Uang juga merupakan alat yang baik untuk mengetahui apa prioritas seseorang. Jumlah terbesar pemakaian uang seseorang menunjukan siapa dirinya dan apa prioritas dalam hidupnya.

Berikut beberapa kebiasaan buruk tentang uang

Spending Then Earning

Warren buffet, salah satu orang terkaya di Dunia menasehatkan, agar “Earning then spending”, maksudnya adalah sebelum membeli sesuatu, pastikan uangnya ada. Sementara saat ini banyak orang melakukan sebaliknya Spending dulu (belanja dulu) baru earning (cari uangnya).

Akibatnya adalah kadang kita bisa terjebak dengan jerat hutang. Apalagi kalau punya kartu kredit yang bisa mengubah tagihan menjadi cicilan.

Gaya Hidup Berlebihan

Teman saya ceritera, beberapa waktu lalu, dia sangat menginginkan suatu SmartPhone  yang harganya lumayan mahal. Akhirnya uang makan yang dia punya di irit – irit, sehingga akhirnya bisa terbeli SmartPhone yang diinginkan. Tentu dengab mengorbankan makanan :). Selang beberapa hari kemudian, HP nya ternyata hilang.

Ada juga salah satu pegawai yang bekerja pada kami, rela pinjam uang RP. 6 juta untuk beli HP, pada saat gaji nya hanya 2 juta. Ini jelas hidup di atas penghasilkan. Mementingkan Gaya hidup. Padahal kalau dilihat dari kebutuhan, sebenarnya Smartphone yang harganya Rp. 2 juta juga sudah cukup.

Ada satu teori yang berkata bahwa ketika kita memikirkan masa depan, maka otak kita akan mempersepsikan diri kita di masa depan sebagai orang lain. Misal kalau kita belanja HP yang terlalu mahal, maka di masa depan kita harus mengurangi pengeluaran untuk makan atau ambil lembur. Nah orang yang harus mengurangi makan atau kerja lembur tersebut , di persepsikan otak kita sebagai orang lain.

Contoh lain, kalau saat ini kita lagi diet, trus pengen makan coklat, otak sudah tau,, konsekuensinya adalah kalau ingin tetap langsing, harus olehraga berat, Olahraga berat kan berarti bakal susah badan ya, sakit badan. Otak mempersepsikan orang yang harus olahraga itu adalah orang lain.

Sehingga kadang memang susah menahan keinginan. Namun ini bisa dilatih kok.

Lupa Biaya Tahunan

Salah satunya adalah pajak. Hidup di negara yang mengenakan pajak, kita harus tentu ingat membayar pajak. Sebagai salah satu contoh, satu pajak yang cukup besar adalah pajak kendaraan bermotor.

Contoh Untuk mobil seharga RP. 300 juta, pajak yang harus dibayar per tahun adalah 1,5% x Rp. 300.000.000 = Rp. 4.500.000 . Sebenarnya bukan biaya yang besar jika setiap bulan kita nyicil nabung 4,5 juta / 12 bulan, hanya Rp. 375 ribu sebulan. Pernah saya alami kesulitan membayar pajak kendaraan bermotor, karena lupa menabung bulanan untuk membayar Pajak STNK.

Contoh lain, biaya Aki yang harus diganti per 1-2 tahun, biaya servis mobil, Pajak Pribadi, Pajak Bumi Bangunan, Biaya kuliah anak dan lain – lain.  Sehingga dalam mengatur keuangan bulanan, jangan sampai lupa untuk menabung biaya – biaya yang dibayar per tahun.

Tidak Membangun Pasive Income

Bagaimanapun, kita manusia ini terbatas, sekuat apapun, suatu saat kekuatan kita sebagai manusia akan turun. Sehingga kemampun kita bekerja pun akan ikut turun. Bisa saja sakit, umur maupun di PHK. Sehingga sangat penting dalam mengelola uang, kita harus selalu memikirkan untuk membangun Pasive Income. Pasive income merupakan jenis pendapatan yang bisa bertambah tanpa anda harus bekerja.

Banyak jenis pasive income yang bisa mulai dibangun, misal membeli reksadana. Dimulai dari RP. 100.000 per bulan, anda sudah bisa mulai memiliki reksadana.  atau mulailah belajar menulis buku sehingga jika terbit, anda bisa mendapatkan royalti dari penjualan buku.

Kalau ada uang lebih, mungkin bisa berpikir buka usaha kontrakan atau jika anda ada ruang kosong di rumah, bisa dibuat tempat usaha.

Tidak Memiliki Asuransi

Minimal milikilah asuransi kesehatan sebagai proteksi, sebab saat ini biaya kesehatan sangatlah tinggi. Jangan sampai kekayaan yang anda kumpulkan, habis untuk biaya kesehatan.

Pelit

Gaya hidup berlebihan tidak lah bagus, namun terlalu pelit juga sama jeleknya. Misal karena pelit, anda jadi dijauhi teman atau lebih bahayanya, kehilangan Client Potensial. Atau mungkin karena pelit, anda membeli barang yang murah tapi mudah rusak,akibatnya jatuhnya sama saja lebih mahal.  Bijak – bijaklah dalam mengatur uang.

Lupa Review

Keuangan pribadi adalah hal yang harus terus di review. Kadang saya alami, sudah atur budget, namun budgetnya ternyata jebol, Ketika budget jebol, review ulang, apa yang membuat budgetnya jebol. Apakah karena tidak bisa menahan diri membeli barang mewah, ataukah karena ada penurunan di sisi pemasukan.

Memikirkan Kata Orang

Kecuali pekerjaan anda berhubungan dengan apa kata orang (Marketing, atau public relation) maka memikirkan apa pendapat orang lain terkadang merupakan kebiasaan uang yang buruk. Misal anda butuhnya HP Seharga Rp. 1 juta, namun kalau anda beli iPhone seharga RP. 12 juta, maka akan membuat orang lain lebih impress / terkesan. Padahal kalau anda harus berhemat di bidang lain, orang lain tidak akan merasakan penderitaannya.

 

Facebook Comments

News Reporter

Leave a Reply

%d bloggers like this: