Suatu malam saya ngobrol dengann isteri. Trus isteri saya bertanya “prestasi aku apa ya ?”. Dan saya pun merenung mengenai kata “PRESTASI“.

Memang pestasi adalah sesuatu yang setiap orang butuhkan. Dan saya percaya bahwa setiap kita manusia diciptakan Tuhan untuk berkarya. Dan hasil dari karya tersebut adalah sebuat prestasi.

Namun Situasi dalam masyarakat terkadang membuat  defisinisi mengenai Pretasi menjadi kabur. Prestasi dalam masyarakat seringkali dihubungkan dengan Nilai yang baik pada sekolah. anak bisa jadi ranking satu, itu adalah prestasi. Kalau tidak bisa mendapatkan juara kelas, itu bukan prestasi.

Kalau bisa menikah di umur 25 itu adalah prestasi, kalau sudah umur 40 belum nikah, itu ga laku atau ga ber prestasi.

Punya kekayaan yang banyak itu adalah prestasi, Punya rumah mewah itu prestasi. Bisa menulis buku itu prestasi.

Seringkali yang namanya prestasi , di asosiasikan dengan sesuatu yang terlihat. Sebuah piala, sebuah angka dibuku tabungan , sebuah toko. Dan segala sesuatu yang membuat banyak orang terkagum – kagum. Sesuatu yang memberikan impresi luar biasa kepada orang lain. Suatu lambang kesuksesan. Kalau gue punya rumah, gue sukses, gue berprestasi. Kira – kira demikian.

Tidak dapat dipungkiri, hal – hal kelihatan di atas merupakan prestasi. Dan baik juga, kalau kita memiliki hal – hal di atas. Namun adalah sesuatu yang salah jika meng-kotak – kotakan prestasi ke dalam hal – hal yang kelihatan langsung.

Prestasi Hari Ini Tidak Selalu Berguna Besok

Salah satu masalah dengan prestasi adalah, apapun yang kita anggap sebagai prestasi hari ini , bisa jadi besok tidak berharga. Misal, waktu SMA saya ingin menjadi siswa dengan Ranking satu di sekolah , saat ini ranking satu itu tidak berguna. Dulu ingin menjadi Ketua kelas, tenar di sekolah, apakah saat ini berguna ?

Contoh lain, dulu memiliki HP Nokia terbaru adalah sebuah prestasi, kita senang kalau bisa memiliki HP Nokia . Saat ini , biasa aja tuh.

Bagi anak muda yang sedang membangun karir, sering kali memliki uang dianggap sebagai prestasi, membuat perusahaan besar akan terlihat keren. Namun suatu saat ketika sudah lanjut usia, persepsi akan prestasi akan berbeda lagi. Bisa berhubungan baik dengan keluarga, memiliki hubungan yang dekat dengan anak – anak , akan menjadi prestasi .

Masa depan merupakan sebuah misteri, ada lagu yang berkata “misteri ilahi”. Ini benar sebab hanya Tuhan yang tau masa depan. Sehingga sering kita jumpai, hal – hal yang dulu kita anggap berharga, saat ini Mungkin tidak berharga.

Prestasi Saat Ini vs Masa Depan

Ini yang biasanya orang salah mengerti, Kebanyak orang hanya mengejar pestasi yang hasilnya bisa langsung dirasakan. Contoh nyata, kalau punya uang , lebih banyak orang memilih untuk beli HP/mobil baru daripada untuk modal usaha. Persepsi kita tentang prestasi seringkali lebih ke arah jangka pendek daripada jangka panjang.

Kalau buat usaha, lama kelihatannya, lagi 2 tahun baru hasil usaha keliatan. tapi kalau beli HP / Mobil baru , kan langsung kelihatan keren sama teman – teman 🙂

Hubungan Adalah Prestasi

Hubungan adalah sesuatu yang paling sering dilupakan orang dalam mengejar prestasi. Misal seorang bapak , rela mengorbankan hubungan dengan anaknya, demi bekerja mengejar uang.

Salah satu teman yang saya kenal mengaku menyesal karena hubungan dengan anak – anaknya tidak begitu baik, akibat dulu waktu anak – anakny masih kecil, beliau hanya ketemu anaknya hari sabtu – minggu lantaran harus bekerja di kota lain.

Prestasi nya dia dapat, dia memiliki uang dan bisa menghidupi keluarganya dengan gaji lebih besar. Namun harus mengorbankan hubungan dengan anaknya. Apakah layak mengejar prestasi dengan mengorbankan hubungan ?

Menurut saya, hubungan juga adalah sebuah prestasi, bisa membangun hubungan yang baik dengan anggota keluarga dalah sebuah prestasi.

SAYA, SAYA, SAYA

Me , me , me , its all about me.. Saya,  saya dan saya, itu semua tentang saya. Yang jadi masalah juga adalah, prestasi itu adalah harus tentang SAYA. Sering kali kita tidak bisa rela melihat orang lain sukses, tidak rela orang lain ber-prestasi.

Berapa banyak suami yang tidak rela isterinya ber-prestasi, dan sebaliknya. Persepsi prestasi umunya dihubungkan dengan SAYA. Ya diri SAYA yang harus menerima semua penghormatan tersebut.

Sehingga keluarga sering dikorbankan. Sayalah yang harus berprestasi mencari uang, keluarga harus berkorban untuk saya. Ada banyak ceritera dimana seorang ibu bisa mendidik anaknya hingga anaknya sukses, namun ibu tersebut tidak diingat.

Bagi dunia, si anak adalah orang yang berprestasi. Namun si ibu boleh berbangga, bisa berprestasi menghasilkan anak yang luar biasa. Sedikit ceritera , Thomas alva edison, salah satu penemu lampu, suatu ketika Gurunya mengatahkan  bahwa Tomas Alva Edison tidak bisa belajar di sekolah sehingga akhirnya Ibunya memutuskan untuk mengajar sendiri Edison di rumah.

Kalau si ibu hanya memikirkan prestasinya sendiri, mungkin saat ini penemu lampu bukan Thomas Alva Edison. Saat ini siapa yang ingat nama ibunya edison ? Tentu hanya sedikit yang tau. Tapi hampir semua orang tau nama anaknya dan hasil pekerjaan anakya

Milikilah persepsi bahwa “Membantu orang lain berprestasi, juga adalah prestasi saya

Prestasi Yang Sesungguhnya

Pada akhir hidup ini, sebanyak apapun uang yang kita miliki, apapun karya yang kita hasilkan di dunia, kita semua akan menghadapi yang namanya  KEMATIAN dan PAJAK #eh.. 😀 Bercanda 😀

Tanyakan pada diri anda sendiri, kalau besok anda meninggal, prestasi apa yang ingin anda capai hari ini ?

 

Facebook Comments
News Reporter

Leave a Reply

%d bloggers like this: