Salah satu acara Favorit saya di TV adalah “7 Deadky Sins” , biasa di tayangkan di Fox Channel (TV Kabel). Dalam salah satu episodenya, menceriterakan dosa yang paling mematikan adalah Envy (Kecemburuan) atau bahas Indonesianya “Iri hati”.

Kalau iri dengan orang yang lebih dari kita sih wajar. Ada orang punya rumah lebih besar, kita pun jadi menginginkan rumah tersebut. Teman punya mobil  lebih bagus, kita juga ingin.

Namun diceriterakan, ada juga iri hati kepada orang lain yang malah memiliki kekurangan. Misal ada yang sengaja menggunakan kursi roda padahal kakinya tidak lumpuh. Bukan untuk meminta – minta uang, namun karena iri dengan perhatian yang didapat oleh orang lumpuh.

Misal penyandang  disabilitas diberikan tempat parkir khusus,  mendapatkan perhatian , lebih banyak diberikan bantuan,dan lain sebagainya. Walaupun hal – hal tersebut wajar diberikan karena ada kekurangan yang diderita oleh penyandang dis-abilitas, namun ada saja orang normal yang iri dengan hal – hal tersebut.

Sindrom Munchaunsen

Ada satu Syndrome penyakit yang mungkin bisa menjelaskan iri hati dalam level “extrime” . Yaitu Sindrom Munchaunsen. Orang normal biasa paling menghindari kalau harus ke rumah sakit, dan sedapat mungkin kalau bisa jangan sakit apalagi sampai masuk rumah sakit. Penderita sindrome ini, malah sebaliknya.

Bukan bercanda, ini serius ada, Sindrom munchaunsen adalah sindrom pura – pura sakit untuk mendapatkan perhatian dari orang lain. Ada kasus dimana dua orang bersaudara, kakaknya waktu masih anak – anak menderita suatu penyakit yang membuat banyak orang jadi lebih perhatian ke si kakak.

Setelah beranjak dewasa, si adik menderita sindrome munchaunsen, sering berpura – pura sakit untuk mendapatkan perhatian.  rela menghabiskan wakktu berjam – jam menunggu dokter, hanya untuk diperiksa dan mendapatkan perhatian dari dokter. Sindrom munchaunsen ini juga sering disebut sebagai “Ketagihan Rumah sakit” atau Hospital Addiction Syndrome.

Tidak Pernah Puas

Iri hati, bisa membuat kita lupa dan tidak melihat kelebihan yang kita miliki.

Permasalahan iri hati, tidak hanya berhenti pada masalah pemenuhan kebutuhan hidup. Dulu belum punya rumah, masih ngontrak, iri sama orang yang sudah punya rumah.

Sudah punya rumah, iri sama tetangga yang rumahnya lebih besar. Dikasi rumah yang lebih besar , iri sama mobil tetangga yang lebih bagus. Sampai kapanpun lingkaran ini tidak akan ada habisnya.

Tidak masalah kalau ingin maju, sebaliknya kita harus ingin terus maju. Namun jika motivasi tersebut adalah karena iri hati, suatu saat ketika sudah punya segalanya, kita mungkin akan iri dengan orang yang tidak punya apa – apa.

Mengorbankan 10 Demi 1

Di kota kelahiran saya, biasanya orang jual Air Minum isi ulang seharga Rp. 6000. Karena ingin bersaing mendapatkan pelanggan ada satu pihak yang banting harga menjual seharga RP. 3000 per galon.

Lucunya, hanya kira – kira 20 meter dari tempat jual Air galon tersebut.  Ada pesaing yang langsung banting harga lagi menjadi RP. 2500 per galon. ini kan tidak masuk akal,Membunuh usaha itu sendiri. Dan yang paling lucu adalah, pemilik dari kedua tempat pengisian Air Minum Isi Ulang tersebut, masih dalam satu keluarga besar. 

Iri dengan kesuksesan orang lain, akhirnya malah merugikan diri sendiri. Ibarat anda punya uang 10 ribu , dikorbankan untuk mendapatkan uang seribu. Malah kehilangan RP. 9.000.

Gagal Melihat Peluang

Contoh usaha air minum isi ulang di atas serta orang sehat yang memakai kursi roda, adalah dua contoh dimana iri hati membuat orang bisa gagal melihat peluang.

Pemilik usaha Air minum isi ulang gagal melihat usaha ukntuk bekerja sama dan sama – sama menaikan harga sesuai dengan harga pasaran yang normal, sehingga bisa mendapatkan margin lebih besar.

Sementara Orang sehat namun memakai kursi roda, gagal melihat betapa banyak kegiatan bermanfaat yang bisa dia lakukan dengan kedua kaki yang normal dan sehat.

Dengan sepasang kaki yang sehat, seharusnya orang sehat dapat melakukan berbagai kegiatan, bahkan berbagai olahraga yang menggunakan kaki dan seharusnya dia bisa membantu menyandang disabilitas dalam ber-aktifitas. Misal membantu mendorong kursi roda. Namun karena iri hati, malah ingin menerima perhatian dan pertolongan yang diterima oleh penyandang dis-abilitas.

Mengenal Diri Sendiri

Kegagalan orang yang iri hati adalah gagal mengenal diri  sendiri. Ini adalah jenis kegagalan dengan tingkat bahaya yang sangat tinggi. Menurut saya salah satu sumber iri hati adalah si penderita Iri hati, tidak mengenal diri sendiri dengan baik.

Dia tidak mengenal apa saja yang menjadi kelebihannya, sehingga cenderung melihat apa yang orang lain miliki.

Bagaikan ikan yang ingin terbang. Atau kuda yang ingin menyelam. Sehingga salah satu obat bagi penyakit iri hati, adalah pengenalan akan diri sendiri.

Hal – Hal apa yang bisa saya kerjakan dengan sangat baik ?

Kelebihan apa yang saya punyai lebih dari orang lain ? (minimal satu masa ga ada)

Apa yang menjadi passion saya ?

Apa kekurangan saya yang bisa dilengkapi oleh  orang lain ?

Bermanfaat Bagi Orang Lain

Langkah berikutnya untuk penyakit iri hati setelah mampu mengenal diri sendiri adalah Mulai melangkah untuk Bermanfaat Bagi Orang lain. Dengan mulai memberikan manfaat bagi orang lain, kita akan merasa diri kita berguna dan berharga sehingga rasa iri hati itu dengan sendirinya akan bisa ditekan.

Kalau hanya duduk merenung dan iri dengan apa yang orang lain miliki, itu tidak akan ada habisnya. Ada saja sesuatu yang bikin iri. Sumber dari iri hati adalah perasaan bahwa orang lain memiliki lebih dari apa yang kita miliki. Baik itu secara materi maupun emosional (perasaan).

Sehingga cara terbaik untuk mengatasi hal ini adalah dengan MEMBERI.  Memberi berarti Kitalah yang memiliki hal yang LEBIH tersebut. Bukan kita yang kekurangan. Memberi tidak harus materi. Memberi perhatian juga adalah bentuk memberi dan manfaat.

Memberi manfaat bagi orang lain bukan berarti kita dalam keadaan lebih. Namun memberi berarti kita menampatkan diri dalam posisi tidak kekurangan.

iri

Penjelasan Bagan :

Kondisi iri hati berarti saya menganggap orang lain lebih besar dari saya dan orang lain harus memenuhi kebutuhan saya (emosional)

Sementara Tidak irim, berarti saya mengenal diri saya sendiri, saya dan orang lain setara sehingga saya juga bisa memberikan manfaat kepada orang lain.

 

Facebook Comments

News Reporter

Leave a Reply

%d bloggers like this: