Sebagai manusia, kita tidak hidup sendirian di dunia ini. Aapalagi di era yang makin moderen, sangat sulit dan bahkan hampir tidak mungkin hidup sendiri. Anda punya uang pun, tidak bisa kan makan uang kertas (apalagi uang logam). Mau ga mau minimal anda perlu urang lain yang menjual bahan makanan.

Sebagai konsekuensi dari hidup yang tidak sendirian ini, kita dituntut untuk bersosialisasi. Dan namanya ber – sosialisasi, ada saja hal – hal yang tidak berkenan dan sering memicu kemarahan.

Kalau berhubungan dengan orang yang berada di bawahtanggung jawab kita, tentu menghukum tindakan yang salah menjadi suatu hal yang tidak dapat dihindarkan. Anak atau Karyawan yang melakukan kesalahan harus dihukum sebagai konseskuensi.

Namun Kalau salah menghukum, bukannya masalah hilang, kadang masalah bisa tambah besar. Oleh sebab itu memberikan hukuman, perlu hati – hati.  Saya pelajari ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam Senin Menghukum

Tujuan Hukuman

Tujuan menghukum seseorang akan berpengaruh kepada cara pemberikan hukuman. Menghukum dengan tujuan untuk menghancurkan akan berbeda dengan menghukum untuk membangun.

Menhukum untuk menghancurkan berarti akan memakai kesalahan sebagai alat untuk memberikan hukuman, tidak perlu proses penjelasan disini, tidak ada proses belajar, hanya hukuman.

Sementara menghukum untuk membangun, harus disertai dengan penjelasan. Apa yang salah, Konseskuensi apa yang harus ditanggung, dan tindakan prefentif ke depan. Harus ada proses belajar agar ke depan tidak lagi berbuat kesalahan yang sama.

Seni Menghukum Tanpa Menghancurkan

AMARAH

Kadang kita memberikan hukuman kepada sesorang , bukan hanya karena orang tersebut melakukan kesalahan, namun juga karena dalam diri kita ini ada sifat AMARAH (WRATH).

Kita menghukum seseorang bukan hanya karena orang itu bersalah, namun karena seperti ada api yang membakar di kepala ini dan api itu harus disalurkan dalam bentuk kemarahan yang besar.

“terkadang tangan ini kalau sudah mulai memukul, sulit untuk dihentikan.” Itu adalah emosi, bukan bentuk tindakan untuk mendidik. Sebelum memberikan disiplin, pastikan emosi anda berada dalam situasi yang terkendali.  Bila perlu tenangkan diri sejenak sebelum memberikan disiplin.

Isteri saya punya tips , kalau lagi marah banget sama anak, dia memilih kunciin anak sebentar di kamar, sampai emosinya mereda. Katanya ” lebih baik daripada melakukan sesuatu yang nantinya akan kita sesali”

Tidak Mempermalukan

Ada teman yang ceritera, bahwa dia masih ingat jelas tindakan orang tuanya , yang membentak di depan banyak orang. Hal itu masih teringat walau kejadiannya sudah sekitar 20 tahun yang lalu waktu mashi berumur 6-7 tahun.

Ketika ada teman anak berkunjung, hati – hatilah dalam memarahi anak, jangan sampai hati anak tersakiti gara – gara merasa dipermalukan. Ketika anda merasa harus memberikan hukuman kepada seseorang, pastikan tidak ada orang lain yang melihat sehingga yang dihukum tidak merasa dipermalukan. dan hukuman pun akan lebih efektif.

Tentang ini memang terus terang , pada jaman pendidikan sekolah yang saya jalani, pendidik seringkali memberikan hukuman dengan cara mampermalukan. Misal tidak bikin PR, dihukum berdiri di depan kelas. Atau kadang dibentak di depan teman – teman sekelas. Bahkan dikata – katai.

Hal ini akan menurunkan minat belajar si anak didik. BEsok mungkin dia akan ingat membuat PR, namun keinginan belajarnya mungkin sudah turun. Ingatlah akan tujuan utama disiplin, yaitu untuk mendidik. Bukan menghancurkan.

Tidak Menghancurkan Kreativitas

Dalam hubungan dengan pegawai yang sangat dibutuhkan (pegawai kunci, staff ahli).  Memberikan dispilin / hukuman , jangan sampai menghancurkan kreativitas dan innisiatif yang dimiliki.

Jangan sampai gara – gara terlalu sering memberikan hukuman / disiplin, pegawai jadi malas untuk berkreasi dan menghancukan inisiatif pegawai untuk membantu perusahaan anda lebih maju. Kalau sampai mental  pegawai jatuh, kitalah yang paling dirugikan.

Hubungan dengan anak juga sama, Sejak ada anak, rumah ga pernah rapi, tembok dicoret – coret bahkan HP dirusak. Belum setahun tembok di cat, sudah kotor lagi.

Disini kalau kita memandang tembok lebih berharga dari kreativitas anak,maka kita akan memarahi anak karena telah mengotori tembok. Akibatnya mungkin anak kita menjadi malas untuk berkreasi karena dimarahin terus.

Namun kalau kita melihat lebih jelas, bahwa itu adalah salah satu sarana penyaluran kreativitas yang perlu di arahkan. Maka kita akan memberi solusi. Misal, memberikan kertas gambar.

Mematahkan kreativitas, adalah sama seperti mematahkan sayap burung. Selamanya tidak akan bisa terbang.

Di Ungkit – Ungkit

Masalah tidak akan pernah selesai kalau terus di ungkit – ungkit. Kalau kita terus mengungkit – ungkit kesalahan orang lain, maka kita tidak akan bisa move on , akan jalan di tempat. Kadang waktu memarahi orang lain, kita terdorong untuk mengungkit – ungkit persoalan yang pernah terjadi sebelumnya dan masalah bisa melebar.

Pastikan ketika masalah sudah selesai, berhenti disana dan jangan diungkit – ungkit lagi. Mengungkit – ungkit masalah akan membuat masalah baru. Dan ini bukanlah sebuah solusi.

Mengerti

Dalam buku Dale Carnegie, dijelaskan bahwa, ada begitu hal yang membuat kita marah. Apa saja yang saat ini berada di depan kita, bisa membuat kita marah besar.  Namun dengan mencoba mengerti keadaan orang lain, maka emosi kita bisa teredam.

Teman saya ada yang ceritera, Dia ke restoran, pesan makanan, seteelah itu dia menunggu dan akhirnya sudah satu jam belum juga makanan disajikan. Hampir saja dia marahin si pegawai, namun dia berusaha menahan emosinya.

Setelah itu dia mencoba mengerti dan melihat keadaan sekitar, saat itu restoran memang lagi rame – ramenya dan pelayan hanya satu orang yang bertugas. Dari sana akhirnya teman saya tidak jadi memarahi si pegawai, malah jadi bersimpati.

Guru dan Orang Tua

Profesi sebagai guru atau orang  tua adalah profesi yang sangat mulia. Tanpa kedua profesi di atas sangat sulit untuk membagun bangsa yang kuat.

Kedua profesi di atas sangat menentukan masa depan bangsa, apabila guru dan orangtua bisa mendidik dengan baik, maka nasib bangsa ini akan lebih baik lagi.

Salah memarahi, bisa berakibat fatal.

 

Facebook Comments
News Reporter

Leave a Reply

%d bloggers like this: