Barusan saya baca sebuah meme komik, yang kira – kira isinya begini “Di pasar beli buah sama pedgang kecil Rp. 10 ribu sekilo nawar, tapi ke kafe beli kopi harga 50 ribu, ga nawar, malah bangga“.

Ini memang benar adanya, dan saya pribadi pun kadang klo ke pasar beli buah suka nawar walaupun sebenarnya harga baerang – barang di pasar tergolong sudah murah jika dibandingkan harga di mall.

Coba kali ini kita lihat dari sisi lain tentang nawar di pasar ini

Kesempatan

Kejahatan bukan hanya terjadi karena niat pelaku, tetap juga karena ada kesempatan, waspadalah … waspadalah..

Quote di atas adalah quote dari perkataan bang napio, salah satu maskot acara realita TV yang sempat populer.

Menurut saya sangat benar dan berhubungan dengan topik tawar menawar ini. Salah satu alasan kenapa belanja di pasar kita suka nawar adalah karena ada kesempatan untuk menawar barang. Beda dengan di mall yang memberikan harga yang sudah dilabel alias FIX Price.

Ketika ada kesempatan untuk menawar, maka pelanggan mungkin akan berpikir, kalau dia tidak nawar, dia akan dirugikan karena tetangga dapat lebih murah. Misal saya hari ini beli ikan sekilo Rp. 100.000 , tetangga cerita kalau dia beli hanya RP. 90.000 sekilo. Walaupun di mall harga Ikan sekilo 120.000, maka yang kita rasakan adalah “gue ditipu RP. 10.000 nih” Ini adalah pola perilaku konsumen yang perlu kita pelajari.

Sehingga hati – hatilah dengan pola pricing yang anda buat.

Konteks

Sama seperti kenapa harga nasi di warung Cuma Rp. 3000 sebungkus dapat banyak pula, sementara di Hotel bisa RP. 25.000 belum Tax and Service, udah gitu sedikit pula.

Ini adalah konteks, tidak salah kalau orang nawar di pasar karena dikondisikan konteksnya adalah memposisikan pelanggan untuk menawar dan KESAN dari pasar sendiri adalah barangnya harus MURAH.

Di sisi lain konteks dari pasar adalah untuk  kalangan menengah bawah yang dikondisikan untuk menawar. Sehingga kalau ga nawar rasanya ga nyaman.

Sementara di mall, konteksnya adalah untuk kalangan menengah atas. Kalau di pasar, malu klo ga nawar, sebaliknya di mall, malu klo nawar.

Penggunaan BRANDING dapat meningkatkan harga jual dari barang yang anda jual.

Service

Kebutuhan dasar manusia memang adalah makanan. Namun untuk kelas yang lebih tinggi, kebutuhannya udah berbeda. Di pasar kita hanya beli BARANG saja alias hanya beli komoditas. Sementara di mall, yang dibeli sebenarnya bukan hanya barang, tetapi juga suasana. Hal inilah yang membuat pelanggan rela bayar lebih.

Tidak sedikit orang yang lebih suka belanja di mall daripada ke pasar dengan alasan, tempatnya enak, nyaman dan rapi.

Kalau anda hanya menjual barang, jangan heran kalau orang nawar, selalu tawarkan “plus – plus” dalam bentuk layanan yang lebih baik. misal Lebih ramah, murah senyum itu aja udah bikin orang senang. kalau ke Tukang rujak trus tukang rujatnya cemberut mulu, gue jadi malas balik kan. Rujak enak dikasi bumbu cemberut jadi nya berasa jengkel juga mangganya.

Kemasan

Di pasar, sebuah barang komoditas dijual dengan kemasan  tas belanjaan plastik yang tidak menarik.  Sementara di mall, barang yang sama mungkin dijual dengan kemasan yang lebih menarik.

Sebagai Contoh Keripik di pinggir jalan harganya hanya RP. 3000, udah gitu masih ditawar. Sementara keripik yang sama dikasi kemasan yang menarik, di mall bisa dijual dengan harga RP. 15.000.Lebih laku pula. Harganya 5x lipat tapi lebih laku, karena dengan kemasan yang menarik, orang jadi lebih tertarik beli dan juga foto, share di Facebook sehingga mengundang teman – temannya untuk beli.

 

 

 

Facebook Comments
News Reporter

Leave a Reply

%d bloggers like this: