Latah

Manusia pada dasarnya adalah mahkluk yang suka ikut – ikutan. Contoh paling gampang dapat kita lihat pada anak bayi. Anak saya yang berumur 2 tahun 7 bulan , sering melihat saya bikin kopi dengan menggunakan filter kopi. Suatu hari saya kaget melihat dia sedang bermain dengan alat filter kopi dengan posisi filter kopi dan gelas persis seperti yang saya lakukan. Dan dengan lucunya berkata “itin opi pa” yang berarti “Bikin kopi pa”.

Manusia pada dasarnya suka meniru orang lain. Dan perilaku konsumen pun demikian, kalau melihat banyak orang membeli suatu barang,kita cenderung memilih barang serupa walau sebenarnya tidak terlalu butuh.

Kalau memilih resto, biasanya resto ramai lebih dipilih daripada restoran yang kelihatannya sepi. Manusia cenderung tertarik akan keramaian daripada kalau sepi. Anak saya kalau diajak ke tempat main yang rame, bisa lebih betah, daripada kalau tempat mainnya sepi. Diajak ke tempat main yang rame, bisa 1-2 jam , tetap kalau sepi hanya 30 menit sudah minta pulang.

Hal yang sama terjadi untuk orang dewasa, khususnya saya pribadi, kalau fitness di rumah, tidak terlalu semangat, tetap kalau di tempat Fitness, melihat orang lain juga ber-olahraga, saya menjadi lebih bersemangat.

Memahami perilaku konsumen yang suka meniru orang lain, akan sangat penting pada saat anda memutuskan untuk membuka suatu tempat usaha.

Tips Aplikatinya adalah , berikan  kepada pengunjung yang datang membawa teman. Misal Diskon 5% jika berdua, Diskon 10% jika bertiga dan diskon 20% jika bawa teman lebih dari 4 orang. Ini akan mendorong pelanggan untuk membawa teman lebih banyak dan tempat anda terlihat lebih rame.

Tips lain adala parkirkan kendaraan anda di dekat toko anda sehingga terlihat ada yang mengunjungi.

Beberapa Toko roti moderen, sepertI BreadT*lk dan  JC* sya lihat meng- aplikasikan konsep yang sama, kedua toko roti di atas walauun pengunjung ramai, tetapi kasir hanya 1-2 saja, sehingga terlihat banyak yang antri. Panjangnya antrian akan membuat orang lain menjadi penasaran dan ikutan antri.

Di tempat lain saya amati, tempat – tempat wisata di bandung, walaupun penuh sesak, namun orang – orang jakarta tetap kunjungi. Bahkan makin rame, makin dicari. Kalau tempat parkir sama tukang parkir dibilang penuh, malah makin ditunggu sampai ada yang kosong. Mungkin keramaian adalah salah satu indikator yang dicari, makin rame berarti makin bagus.

Ramai di Media Sosial

Cara lain untuk membuat toko anda semakin ramai adalah dengan membuat keramaian di media sosial. Salah satu Online Shop yang saya kenal menggunakan sistem Pelelangan untuk menjual produknya (HandMade).

Prosesnya adalah barang dipanjang melelui foto di Facebook tanpa menyebutkan harga. Calon pembeli kemudian haru menuliskan kata BOOK di komen. Dan siapa yang paling cepat BOOK akan diberi tau harga lewat private message.

Jika ternyata orang pertama batal membeli maka orang kedua akan diberikan kesemptan untuk membeli.

Cara ini sempat heboh dan beberapa anggota fan page Online Shop tersebut kadang hingga jam 12 malam (termasuk isteri saya) menunggu untuk si Penjual memajang foto barang yang ingin dijual.

Saya perhatikan yang bikin Fan Page Online Sop tersebut menarik adalah interaksi dari sesama pembeli dan persaingan untuk memburu barang yang ingin dibeli ( Tas Wanita). Tentu produknya juga berkualitas.

Ruang Kosong

Contoh suatu ketika saya menghadiri pesta pernikahan teman di tempat yang sangat besar. Walaupun ruangan tempat pesta pernikahan diselenggarakan besar, undangannya tidak banyak, sehingga banyak ruang yang lowong. Alhasil walau baru satu jam di sana, sudah terasa boring/bosan.

Dua minggu kemudian saya kembali menghadiri pesta pernikahan lain, dan pas datang saya kaget karena ruangannya sangat kecil dan hampir penuh sesak. bahkan terasa seperti di pasar malam. Herannya walau sudah dua jam lebih, tidak terasa membosankan.

Ini membuktikan bahwa manusia memang mahkluk sosial, dan berada di situasi yang terlalu ramai, lebih menyenangkan daripada terlalu sepi. Sehingga ketika membuat desain interior untuk sebuah usaha, jangan sampai ada ruang kosong yang terlalu banyak. Usahakan barang penuh di toko anda.

Saya pernah dengar cerita, seorang pengusaha mengatakan bahwa, kalau barang di tokoknya lagi sedikit, dia akan mengeluarkan karton – karton kosong, dbungkus rapi sehingga barang – barang di tokonya terlihat penuh. Dengan demikian memberikan perasaan nyaman kepada pelanggan dalam berbelanja. Pelanggan menjadi yakin kembali karena barangnya banyak bukannya sudah hampir habis.

JIka ternyata di toko anda memang ada space lebih , berpikirlah kreatif dan tempatkan suatu barang misal kursi, ataupun asesoris yang membuat ruangan terlihat penuh.

Kabar baiknya adalah , ketika anda memutuskan untuk menyewa tempat untuk usaha, tempat anda tidak harus besar. Malah agak sempit itu bikin orang menjadi lebih nyaman. Nyenggol- nyenggol dikit bikin suasana lebih meriah :D.

Facebook Comments
News Reporter

Leave a Reply

%d bloggers like this: