Kalau boleh jujur, apa yang membuat seorang konsumen balik lagi ke toko langganannya ? Jawabannya adalah KONSISTENSI. Dan apa yang membuat seorang konsumen beralih ke kompetitor ? Ketidak Konsistensi.

Manusia adalah mahkluk berpola, sebagai contoh di gereja yang biasa saya kunjungi dalam satu tahun terakhir, walau tidak ada yang mengatur tetapi posisi duduk dan juga posisi tempat parkir 90% kurang lebih sama setiap minggunya.

Konsumen pun demikian,

konsumen akan memiliki pola yang membuat dia

membeli suatu produk tertentu ,

di suatu tempat tertentu ,

pada waktu tertentu ,

di harga tertentu ,

dengan pelayanan tertentu

Sebagai contoh, toko roti langganan saya biasanya buka jam 6.30 pagi, setiap pagi saya kesana jam 6.30 rotinya sudah siap. Makanya jadi langganan saya. Tidak pernah sekalipun saya kesana dan mendapati tokoknya tutup.

Sebelumnya saya pernah berlangganan di toko roti lain, biasanya jam 7 .30 rotinya sudah siap dibeli, tetapi setahun terakhir , saya kunjungi jam 8 pun rotinya belum siap. Karena ada perubahan ini maka saya memutusakan untuk mengubah tempat berlangganan roti.

Anda tidak harus membuka toko atau tempat usaha 24 Jam. namun milikilah suatu agenda yang pasti, misal dari jam 7 pagi hingga 7 malam. Namun setiap jam 7 pagi anda sudah harus siap. Karena pelanggan akan kecewa ketika dia sudah bangun pagi – pagi, menghabiskan bensin ke tempat anda, ternyata produk yang ingin di beli belum siap.  Disinilah pelanggan akan berpotensi beralih ke kompetitor.

Perlu Ketekunan

Konsistensi memang perlu ketekunan. Kisah toko roti di atas, toko roti yang akhirnya saya langganan roti, sebelumnya sudah buka paling tidak 6 bulan sebelum  akhirnya saya langganan.

Dan saya rasa, pasti ada banyak roti yang pada awalnya di buang karena tidak laku. Namun toko roti tersebut tetap mempertahankan konsistensi kualitas dan jam buka. Sehingga akhirnya saya perhatikan, toko roti tersebut menjadi salah satu yang paling laku di lingkungan tempat tinggal saya.

Ada penelitian katanya, minimal perlu 3 minggu membentuk kebiasaan agar kebiasaan itu menetap.

Tidak Harus 100%

Produk nya pun tidak harus siap 100%. Misal jam 7 pagi ada daftar produk – produk yang sudah siap, contoh roti tawar. Dan harus konsisten, setiap jam 7 pagi roti tawar sudah tersedia walau produk lain belum tersedia tidak apa – apa. Sehingga pelanggan sudah tau, ketika dia pergi berbelanja, pelanggan sudah memiliki bayangan apa saja produk yang bisa dia beli.

Jangan sampai hari ini jam 7 pagi , roti tawar sudah siap, besoknya roti cokelat. Pelanggan akan menjadi kecewa karena yang ingin di beli adalah roti tawar.

Beberapa resto yang saya kunjungi dengan jelas mencamtumkan daftar menu serta jam tersedia. Misal menu makan pagi tersedia dasri jam 7.00-10.00 setelah itu tersedia menu makan siang.

Kontrol Kualitas

Produk itu sendiri pun harus memiliki kontrol kualitas yang jelas. Beberapa resto jadul, sering memasang Slogan “Citarasa tetap sama sejak tahun 1930” misalnya. Ini menandakan bahwa kontrol akan kualitas produk sangat penting. Karena konsumen menginginkan barang yang sama ketika akhirnya dia kembali untuk membeli produk tersebut.

Misal hari ini saya beli nasi goreng enak, besok balik lagi, keasinan, kemungkinan saya tidak akan balik lagi. Kualitas yang terkontrol dan produk yang konsisten akan membuat pelanggan menjadi terus membeli produk dari perusahaan anda.

Facebook Comments
News Reporter

Leave a Reply

%d bloggers like this: