Dalam dunia psikologis, dikenal suatu fenomena yang dinamakan  bystander effect. bystander effect merupakan suatu fenomena, dimana dalam suatu kejadian, misal kecelakaan, makin banyak orang yang datang melihat korban kecelakaan , maka makin kecil kemungkinan si korban ditolong.

Fenomena ini sering saya jumpai, saat ada yang kecelakaan, jalanan bisa macet, bukan karena korban atau kendaraan yang berserakan dijalan raya, tetap jumlah “penonton” bisa mencapai belasan hingga puluhan orang.

Pernah sekali saya mengalami hal ini, dimana mobil saya ditabrak sama pengendara motor,yang ditabrak oleh mobil lain.  langsung saja banyak warga yang datang. Dari sekian banyak warga yang datang menonton, hanya dua orang yang menolong, sementara yang lain Bukannya menolong si korban, malah hanya menonton.

Bahkan parahnya, di media sosial, saya pernah melihat pada saat ada kecelakaan yang memakan banyak korban jiwa, ada beberapa pengunjung yang malah selfie dengan menampilkan gambar kecelakaan  sebagai latar belakang.

Ada beberapa alasan kenapa terjadi bystander effect dan bukan hanya merupakan kurangnya empati.

Ambiguitas

Orang yang datang melihat menjadi ambigu, apa apa yang terjadi, dan karena ambigu, orang jadi bingung mau mengambil tindakan apa. Apakah benar si korban sakit dan perlu ditolong dengan segara ?

Apakah membahayakan kalau saya menolong korban ?

Pentonton cenderung memikirkan keselamatan sendiri sebelum menolong orang lain

Tanggung Jawab

Karena banyaknya orang yang datang melihat suatu kecelakaan, maka terjadi kebingungan siapa yang memegang tanggung jawab. “Kenapa harus saya yang menolong? kan ada orang lain”

Ini seperti suatu organisasi yang kegemukan, alias kelebihan pekerja dan jabatan dalam suatu struktur organisasi. Jika suatu pekerjaan harusnya dikerjakan oleh satu orang , tetapi yang ditugakan dua orang ,bukannya tembah cepat, bisa jadi tambah lama, karena mungkin saling lempar tanggung jawab.

Tidak Mengerti Situasi

Sering kali yang menyebabkan pentonon tidak menolong korban adalah karena tidak mengerti situasi, harus melapor siapa, rumah sakit dimana dan lain sebagainya. Jika mengerti situasi, penonton cenderung cepat memberikan respon.

Contoh sederhana, kalau saya ke Mall, tapi lokasi Toilet, saya akan lebih sering ke toilet ketika ingin Pipis. Namun kalau ke mall baru, saya cenderung akan menahan pipis karena tidak tau lokasi toilet, hingga akhirnya kebelet banget baru nanya satpam.

Mungkin untuk mengatasi hal ini, sebuah organisasi perlu membuat aturan – aturan yang jelas ketika terjadi situasi krisis. Sehingga orang yang melihat krisis, bisa dengan cepat memberikan respon karena tau apa yang harus dilakukan.

 

 

 

Facebook Comments

News Reporter

Leave a Reply

%d bloggers like this: