Kalau saat ini anda ke supermarket membeli gula, sekilo hanya RP. 14 ribu, Tahukah anda pasa tahun 1300-an satu kilogram gula setara dengan $100 saat ini. Bayangkan saya 1 Kilogram gula seharga Rp. 1.4 juta rupiah. Berarti satu blok gula 4 gram sama dengan Rp. 6800 rupiah. Jauh lebih mahal gula daripada bensin.  Bahkan dikisahkan dalam satu era, Raja inggir memesan 1,3 kilogram gula. Hanya 1,3 kilogram gula, dan itu adalah seluruh gula yang ada di inggris.

Bukan hanya mahal, tetapi gula juga sangat sulit ditemukan. Sehingga saat itu hanya anggota keluarga kerajaan saya yang mampu mengkonsumsi gula. Bahkan gula menjadi sebuah lambang prestise. Dalam sejarah dikisahkan ada yang membuat patung setinggi 1,8 meter dari gula sebagai lambang prestise. Dan jika di uangkan , patuung dari gula tersebut sama seperti sebuah mobil ferari saat ini.

Sangking gula mahal dan menjadi lambang prestis, beberapa sosialita memakan gula sdengan tujuan untuk membuat giginya berwarna hitam karena pengaruh negatif gula terhadap gigi. Mungkin memiliki gigi yang hitam karena gula sama seperti memiliki tas Hermes seharga 500 juta :).

Jika saat ini beberapa orang terkaya di dunia adalah penguasa ladang minyak dan tambang emas. Namun di tahun 1300-1900, karena harga gula yang sangat mahal, beberapa orang terkaya di dunia berasal dari Industri Gula. Di tahun 1750 hanya ada 120 tempat pemprosesan gula di inggris dengan kapasitas produksi hanya 30 ribu ton per tahun (bandingkan dengan konsumsi gula saat ini sebesar 120 juta ton per tahun).

Gula menjadi barang yang sangat mewah dan saat itu dikenal dengan istilah “emas putih” atau White gold. Sementara saat ini, gula hampir tidak ada harganya, di coffe shop dan resto baahkan gula dibagikan secara gratis.

Minyak Dunia

Saat tulisan ini dibuat, harga minyak dunia telah turun dari tertingginya di tahun 2008 $140 per barrel menjadi hanya $29 per barrel. Berkaca dari sejarah gula dimana harga gula dari tertingginya $100 per kilo turun enjadi hanya $1 per kilo,maka tidaklah mustahil untuk harga minyak bisa turun terus.

Kisahnya kurang lebih sama. Gula dahulu sampai saat ini sangat dibutuhkan, namun karena dulu belum banyak produksi, harga gula menjadi sangat tinggi. Sementara karena kebutuhan terus ada maka industri gula berkembang (prinsip ada gula ada semut) sehingga lambat laun pasokan gula menjadi sangat besar dan harga gula dari $100 turun menjadi $1 per kilonya.

Hal yang sama juga terjadi pada harga minyak. Minyak karena dibutuhkan maka industri minyak menjadi sangat maju. Akhirnya suatu saat (seperti saat ini) pasokan minyak menjadi sangat tinggi dan akhirnya menghancurkan harga minyak itu sendiri. Kurang lebih sama kan seperti cerita gula di atas.

Mungkin saja 100-200 tahun dari saat ini minyak hanya seharga $1 dan akan ada cerita seperti gula di atas.

Pelajaran yang bisa kita ambil disini adalah, apa yang saat ini  mahal dan berharga, belum tentu besok tetap mahal dan berharga. Gula yang dulu begitu mahal dan hanya bisa dinikmati oleh kaum ningrat, saat ini harganya sangat mudah dan siapapun bisa menikmatinya.

Walaupun kebutuhan akan gula dari tahun 1300 hingga saat ini meningkat ratusan kali lipat, namun kenyataannya, harga Gula turun hingga lbeih dari 99%. Yang ebrarti kita tidak bisa memakai alasan bahwa, minyak tetap dibutuhkan , oleh sebab itu harga minyak akan naik lagi. Mungkin benar bahwa harga minyak akan naik lagi, namun tidak menutup kemungkinan akan memakan waktu sangat lama. Sebab seperti hal nya gula yang memiliki konsumsi yang terus naik, kenyataanntya produksi juga naik, sehingga harga gula tidak kunjung balik $100 per kilonya.

Saya tidak mengatakan bahwa jarga minyak akan turun , namun sejarah mencatatkan berbagai bahan komoditas yang dulu dianggap sangat berharga, saat ini bisa jadi tidak berharga. Sehingga sebagai pelaku dunia pasar modal, kita harus berhati – hati dalam memilih suatu instrumen investasi. Dan tanggaplah akan perubahan.

 

 

 

 

 

 

Facebook Comments

News Reporter

2 thoughts on “Gula Dan Minyak

Leave a Reply

%d bloggers like this: