Murah itu, ternyata mahal

Suatu pagi, saya pergi ke coffee shop yang baru saja buka di dekat rumah. Walau baru buka, tetapi coffee shp ini sebelum,nya sudah punya nama besar di bandung. Tidak setenar Starbucks, tetapi cukup terkenal.

Sebelum ke coffee shop, saya lari pagi dulu, dan rencananya, beristirahat sambil ngopi disana, kemudian pulang. Rencananya mungkin hanya 15 – 25 menit disana. Tetapi yang bikin saya jengkel adalah, saya harus menunggu hingga 20 menit barulah kopi yang saya pesan siap.

Padahal biasanya rata – rata hanya 5 menit saja di tempat lagi., Padahal saat itu coffee shop tersebut sedang sepi, karena saya datang paa jam 07.30 pagi. Lebih parah lagi, ketika saya meminta bill, saya mesti meminta bill 2x dan itupun tidak dibawain oleh pel;ayannya, dan saya harus ke kasir sendiri buat bayar.

Dan setealah saya mau bayar, si kasir masih kebingugan dalam meng-operasikan mesin kasir.

Murah tapi mahal

Saya engga tau, apakah coffee shop tersebut sembarangan mengambil karyawan , asal mau digaji murah, tetapi dampaknya membuat pelanggan menjadi kesal, Saya rasa sangat penting bagi penguasa dalam memilih karyawan, jangan sekedar memilih karyawan yang mau dibayar murah tanpa skill yang memadai atau mungkin tidak pada tempatnya.

Ada orang – orang yang , bukannya bodoh tetapi kadang ditempatkan tidak pada bidangnya, tetapi mungkin karena tekanan keuangan, mereka rela bekerja dimana saja dengan gaji berapa saja asal isa bertahan hidup. Sebagai pengusaha, kita harus waspadai hal ini.

Kurangnya pelatihan

Menurut saya masalah kedua adalah kurangnya pelatihan, karen terlihat si kasir sangat kebingungan meng-operasioan mesin kasir. Pelatiham mungkin biayanya tidak sedikit,  tetapi kerja tanpa adanya pelatihan, bisa mengakiatkan biaya yang leih mahal lagi kalau –  kalau anda kehilangan pelanggan gara – gara pegawai yang kurang dilatih.

Kurang persiapan

Entah mungkin coffee shop ini baru buka atau mungkin saya datangnya kepagian, sehingga terkesan walau sudah buka pagi – pagi, tetapi memunya belum 100% siap sehingga ketika ada pelayan yang memesan, harus menunggu sampai hampir 20 menit barulah segelas kopi bisa tersaji.

Dalam kasus di atas, coffee shop tersebut buka dari jam 07.00 dan menurut saya , tidak masalah apabila suatu coffee shop buka jam 8 pagi , tetapi ketika sudah membuka pintu, seharusnya semua menu, atau menu- menu tertentu (misal menu makan pagi) harus bisa disajikan segera. Jangan sampai buka jam 07.00 tetapi jam tersebut pula karyawan juga baru masuk. Menurut saya, ketika suatu toko buka jam 07.00 maka semua yang disajikan juga harus sudah siap untuk diperdagangkan.

Facebook Comments

News Reporter

Leave a Reply

%d bloggers like this: